Sudah hampir 3 minggu lamanya saya berkelana di berbagai tempat. Kalau dulu berkeliling di Sumatera, sekarang giliran ujung timur pulau Jawa hingga nyebrang-nyebrang dikit sampai ke Pulaunya Para Dewa. Selama petualangan itu, saya sempat menikmati berbagai hidangan khas yang mungkin akan susah ditemukan ditempat lain selain di tempat itu. Kali ini, bukan niat mau menyaingi para pakar kuliner, tetapi hanya ingin berbagi pengalaman, baik pahit, manis, asam dan asin hidangan-hidangan di beberapa daerah di Nusantara ini, hidangan yang biasa sampai yang luar biasa menurut pendapat saya.
Petualangan pertama mungkin diawali dari daerah dimana hampir 5 tahun saya berada disana, Bandung. Rasanya tak banyak diceritakan di daerah ini, selain memang beberapa kuliner yang cukup unik seperti Pizza Tungku di Setiabudi. Masakan sehari-hari masyarakat sana, terutama yang di rumah makan sederhana, seperti Warung Sunda, menyediakan berbagai masakan yang memang sebenarnya adalah masakan sehari-hari mereka. Orek Tempe, Sayur Asam, Rolade Kuah, dan beberapa masakan dengan rasa khas Sunda. Yah, saya sih sebenarnya tidak terlalu cocok dengan “rasa”-nya, tetapi berhubung itu satu-satunya yang bisa saya makan, bahkan hampir 5 tahun, dan karena memang saya lagi laper, tetep saja makanan-makanan itu kolu (Jawa, baca:tertelan).
Kemudian, sejenak setelah masa-masa sekolah dilalui, akhirnya hijrah ke Ibu nya Kota nan Panas, Jakarta. Masakan disana tidak terlalu beda, bahkan saya belum menemukan makanan yang terlalu unik. Bahkan pun, di lingkungan tempat saya singgah, saya masih menjumpai warung-warung sederhana seperti Warung Sunda dan tentu saja Warung Tegal alias WarTeg. Jujur, saya sebenernya tidak terlalu ngerti, juga tidak terlalu mempedulikan nama masakan-masakan di setiap warung yang saya temui, yang penting kelihatan enak, saya pesan, dan saya makan. Bagi saya, masakan yang paling saya suka adalah tempe, dengan berbagai variasi masakan yang menggunakan tempe. Entah di goreng, di orek, atau diapapun juga, saya tetap suka tempe. Ketoprak, soto, ayam bakar, pecel lele, menjadi menu andalan setiap hari.
Akhirnya ada kesempatan ke pulaunya para dewa. Disebut demikian karena memang dimana-mana ada dewa, ya di depan pintu, ya di pagar, ya di perempatan, semua ada dewa nya, ada yang kecil ada yang gede. Kalau malam, bener-bener serem kalau jalan-jalan sendirian, noleh kanan patung noleh kiri patung, jadi gragapan sendiri. Seminggu disini membuat saya bisa menyempatkan diri mencicipi beberapa jenis makanan disini. Entah itu lawar yang harganya tak sampai lima ribu rupiah, hingga ikan yang saya baru tahu namanya itu seperti Red Snapper, Garrouppa, dan macem-macemnya, yang harganya terbilang wah untuk sebuah bakal t*i. Hehe.
Lawar itu kayak soto campur urap nya orang jawa. Nah loh, Kalau saya amati, di bagian kuahnya yang mirip soto, ada bahan seperti pelepah pisang, entah bener atau enggak, saya ga sempet menanyakannya.
Pada saat makan lawar ini, ketidakberuntungan saya berawal. Pada suapan pertama, saya mendapatkan garam utuh sebesar ujung kelingking. Rasanya Maknyuss… Berhubung sudah masuk mulut, pantang untuk di lepeh kan, saya langsung gelontor dengan minuman, rasanya ngilu kalau ingat harus mengunyah garam yang bener-bener asin itu. Kemundian, ternyata ketidakberuntungan saya berlanjut. Saya sempat melirik porsi kawan saya, ternyata saya temui daging ayam di kuah soto lawarnya, dan punya saya kosong, hanya kuah dengan potongan pelepah pisang itu. Doh! Tapi saya tak mengeluh lah, saya tetap sikat sampai habis hidangan yang bernama lawar itu.
Malamnya, saya berkesempatan menikmati sebuah restoran di pinggiran pantai Jimbaran. Its pretty damn romantic place! Terhasut oleh rayuan pak ketut yang malam itu berperan sebagai driver yang dengan setia mengantarkan ke setiap tempat yang kami inginkan. Oh iya, kami datang berempat, cowok semua *sigh*, tetapi yang makan hanya kami bertiga, sedangkan pak Ketut, terlalu sungkan untuk ikut makan bersama. Setelah berapa lama bermobilan ria dari Legian, akhirnya tiba juga di Jimbaran, kita pilih salah satu restoran, Ganesha. Tanpa pikir panjang, kita langsung masuk dan diiring oleh waiter disana, dipersilakan duduk di salah satu bangku kosong di pinggir pantai. Lampu-lampu disusun rapi dan membentang sepanjang mata memandang, terlihat semuanya restoran! Lantas kita disodori menu, kita sempet tersentak juga melihat pricelist nya. Maklum lah, masih terbawa-bawa suasana mahasiswa dulu yang hidup serba kecukupan, makan cukup sedikit, cukup sederhana sekali, dan cukup murah. Tapi kita nekat, sekali-kali lah. Ternyata untuk menu itu hanya untuk minuman saja, untuk menu utamanya, ikan, langsung suruh milih ikan-ikan hidup di aquarium. Minumnya saya langsung ambil jus strawberry. Sebelum hidangan utama, kita dapat sup ikan sebagai pembuka, dan kacang. Iya, kacang tanah goreng itu!
Akhirnya kita berniat memilih ikan yang akan kita lahap. Sempet kasihan juga sih lihat ikan-ikan hidup di akuarium mondar-mandir kebingungan di kotak kaca itu, apalagi bentuknya aneh-aneh. Red Snapper untuk Kakap Merah, Garouppa dan beberapa nama aneh lainnya. Harga? Per kilonya dikisaran seratus ribu rupiah *sigh*. Saya akhirnya memilih ikan yang agak besar, kurang ingat namanya, karena aneh-aneh, yang saya ingat adalah beratnya 1,5 kg. Kami putuskan untuk dibakar saja ikan itu. Tidak milih yang lain-lain lagi, apalagi udang galah, lobster atau kepiting, bakal pulang tanpa celana kalau kami milih itu.
Selama menunggu hidangan, kami juga dihibur oleh sekelompok pengamen elit, meski secara tidak langsung. Karena pengamen itu sebenernya mengincar bule-bule disekitar meja kami, tetapi tetap saja, kami bisa ikut menikmati alunan lagu-lagu yang menambah romantis suasana malam itu. Kita juga bisa melihat kelap-kelip lampu pesawat yang naik turun, take off dan landing di bandara Ngurah Rai, karena pantai Jimbaran ini konon berada tepat disamping bandara. Sayang sekali saya hanya bersama dua orang batangan, Mister Kondo dan Eri Udin. Menyesal tak saya ajak istri tercinta. One day, I’ll bring you here, Hon! Hidangan pun akhirnya datang, paket ikan bakar plus nasi sebakul dengan Ca Kangkung yang lumayan menggoda selera. Cukup mengobati kekecewaan memakan lawar tadi siang, pikir saya. Tetapi ternyata, ketidakberuntungan saya masih berlanjut malam itu. Saya tak sempat menikmati separuh porsi nasi yang saya ambil dari bakul, sebelum akhirnya ada duri nyangkut di tenggorokan. Pengin sebenernya misuh-misuh, tetapi ya percuma saja, cuma malah buang-buang energi saja. Saya pikir dengan minum akan bisa menghilangkan duri yang membuat saya tidak lagi bisa menikmati hidangan dan suasana malam itu. Tetapi ternyata sampai habis jus strawberry yang saya pesan tadi, duri itu tak juga mau turun ke perut. Nasiib nasib… yasudah saya nekat makan sampe habis, sambil berusaha menghindarkan rasa sakit akibat duri laknat itu.
Pengen rasanya berlama-lama disana, sampai pagi mungkin, bayangkan, dipinggir pantai, saat malam, dengan lampu hias memanjang sepanjang pantai, dengan alunan lagu-lagu cinta yang dibawakan apik oleh para pengamen elit di restoran tersebut, benar-benar romantis. Bagi anda pasangan muda, sangat direkomendasikan untuk mengunjungi tempat ini. Kalau dihitung-hitung tidak begitu mahal kok, bertiga saja tak sampai dua ratus ribu untuk restoran semewah itu, apalagi suasana dan nuansanya bener-bener berkesan sekali.
Sekembali dari pulau para dewa, lompat ke Jakarta, akhirnya dikirim lagi ngepet ke Surabaya. Hingga tulisan ini dibuat, saya masih berada di sebuah hotel di seputaran Pandegiling. Setelah seminggu di pulau para dewa, setelah merasa kesulitan mencari makanan yang boleh ditelan, setelah seminggu diiming-imingi berbagai hidangan dengan bahan dasar hewan tanpa leher alias si babi (bahkan kami sempat hanya sarapan jus dan roti bakar, karena breakfast hotel hanya menggunakan daging babih untuk semua hidangannya pagi itu, untung ga jadi kurus karena cuma sarapan roti, hehe..) akhirnya bisa mencicipi masakan Jawa, bener-bener nikmat, maknyuss tenan. Ya pecel khas Ponorogo, soto orang Lamongan, bener-bener joss tenan! Bukan niat mendiskreditkan masakan dari daerah lain, tetapi mungkin sensor di lidah saya langsung bekerja maksimal disini. Sudah enak, murah pula. Bahkan ketika mbayari beberapa orang pun, tidak semahal kalau di daerah lain. Bener-bener masakan rumah, sudah kangen masakane mamah. Berapa tahun tidak merasakan masakan rumah, sungguh terasa bedanya.
Didepan hotel, sepanjang jalan Pandegiling, kalau malam berubah jadi pasar. Sekian puluh pedagang menggelar dagangannya, setiap malam, sandhangan, makanan, termasuk hidangan babi kecap Pandegiling. Di Jalan Urip Sumoharjo, ada foodcourt, yang setiap malam ada hiburan organ tunggal, hidangane juga macem-macem, tapi semuanya dijamin boleh ditelan kok, murah-murah pula dan yang terpenting, tetap enak, citarasa tinggi! Hampir tiap malam, hampir 10 hari, saya makan malam disana, mungkin ibu-ibu pengelolanya sudah mulai hapal muka saya. Tempatnya cukup strategis, juga enak buat makan.
Sudah dulu mungkin untuk malam ini, sudah ngantuk, kali lain disambung lagi, atau dicrita yang lain lagi.