Cerita tentang Seragam Kerja

04Nov11

Seragam sendal jepit warna hijau merek Swallow yang bocel ujungnya plus kaos oblong warna putih yang depan nya bertuliskan ‘Singapore’ dengan gambar Merlion di bagian depan yang sudah mulai pudar, yang bolong dibagian pundak, oleh-oleh dari teman beberapa tahun yang lalu, menjadi seragam yang sering saya pakai kalau sudah keluar kantor, bahkan menjadi seragam keseharian kalo gak pas dicuci. Sedikit aneh kalau orang melihat, bahkan mungkin ada yang berfikir kalo saya gak punya baju yang lebih pantas untuk dipakai. Saya punya 2 seragam kerja, warna merah menyala yang dipakai setiap hari Senin. Dan warna coklat krem yang oleh rekan-rekan senasib sepenanggungan sepakat untuk dipakai pada hari Selasa. Meskipun masih saja ada yang memakai baju lain, padahal katanya sudah sepakat. Hehe…

Kalau resminya, seharusnya, sebagai orang lapangan adalah seragam resmi warna merah dipadu dengan jeans satu-satunya yang saya miliki warna hitam ditambah dengan sepatu safety seharga 200 ribu warna biru yang, lagi-lagi, bagi sebagian orang gak mecing dengan warna seragam atasan. Tapi, berhubung emang ‘ndableg’ kalo masalah pakaian, yang penting buat saya adalah nyaman dipakai dan pantes menurut saya sendiri sehingga saya tidak perlu ngumpet-ngumpet kalau ketemu orang, itu sudah cukup. Justru aneh kalo tukang sapu dan tukang cat tower seperti saya ini pake kemeja putih dan baju pantofel, kan?

Apalagi kalau sedang diluar kantor, dan tentu saja memang lebih sering di luar kantor daripada di kantor. Celana panjang dilipet hampir sampai dengkul, sepatu safety simpen di mobil, terus make sendal jepit yang sudah saya ceritakan diatas itu, berhubung sekarang cuaca kalau siang panas luar biasa, sering kali sampai copot baju tinggal baju dalem saja, tapi celana tetep dipake lho. Itu kalau suasana lagi bebersih nyapu atau ngecet tower biar warna putih dan merahnya selalu ngejreng dan selalu kelihatan kalau ada orang lain yang mau berkunjung ke tower.

Berbeda balik dengan bundanya anak-anak yang begitu memperhatikan masalah baju. Emang dasarnya cewek, harus match lah, warna ini tidak bisa dipadu dengan warna itu, bla bla bla. Ribet pokoknya. Bahkan pernah sampe ribut gara-gara jilbab nya yang match sama bajunya gak ketemu-ketemu entah nyelip dimana. Hmmm…

Tapi ya sudahlah, semua kembali ke masing-masing saja. Toh, setiap orang memiliki rasa estetika sendiri-sendiri. Seperti kata pepatah “Don’t judge a book by its cover”, jangan melihat orang hanya dari baju yang dia pakai. Yang penting adalah kostum harus sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dihadapi.  Kalo lagi ngepel tower yang di gedung, ya sedikit jaga imej pake seragam resmi plus surat pengantar biar gak dikira mau maling. Kalo lagi mau ke tower greenfield mah bebas-bebas aja lah, yang penting nyaman dan disesuaikan dengan cuaca.

Ngomong-ngomong sudah mau ganti tahun lagi, dan blog ini rasanya sudah terlalu lama tidak update. Banyak yang mampir dan kecele gak ada isi nya, itu-itu saja. Rupanya yang namanya konsisten itu susah luar biasa. Begitupun konsisten nulis, kadang semangat kadang lemah syahwat, hehehe… Sekalinya update topiknya gak jelas, gak sesuai dengan tag line nya yaitu Ngoprek, wis ben lah, yang penting update dulu aja (maksa banget dah!). Nanti, Insya Allah, akan diupdate lagi dengan dokumentasi ngoprek yang udah dilakukan, mulai dari ngoprek ipin, android (padahal bukan punyanya semua, hahaha), sampai ngoprek indie dan grafik. Entah kapan tapi ya, paling tidak ada niatan dulu, kan?



6 Responses to “Cerita tentang Seragam Kerja”

  1. wooo… pantesan kuping bunda nguing2,, ternyata disebut2 disni.. :D
    sebagai menteri rumah tangga, menjabat juga menteri keuangan serta menteri logistik, *jan. banyak banget yoo jabatanku.. :(

    - Jins punya 3 yoo ay.. tapi yg 1 dah gak muat.. *oopss :P
    ayoo diet yuukk, biar yg 1 lg bisa diberdayakan kembali..

    - Sepatu biru-itu-yg-ayah-sebut-tak-macthing-itu… sudah nda kasi saran yg super duper dahsyaattt.. “ambil yg warna gelap ciinntt.. ambil yg model biasa.. biar bisa dipke semua baju..”
    heeee kok malah beli yg ituuuu… :(

    - Sendal djepit yg “sekseh” itu… sudah berkali-kali kita melewati toko sepatu, bahkan ketika sudah berada didalam area sepatu pada sebuah mall, sudah berputar2 mengelilingi area itu, sudah berpusing2 pula, bunda cm bilang “ayoo yaaang.. pilihhh.. masa dari sekian ratus model gak ada yg nyangkuuutttt…” heuuuu… fyuuhhh.. :(

    oh iya yah, nanya dunk, baju pantofel tu kayak apa??
    hari sabtu bsk yuk kita hunting klo ada,, heuheuheuheu… :D

    huhuhu ayah oh ayah….
    luph u dah! :-*

  2. Sendal jepite wis pedhot saiki Bun, tumbasne meneh yaa…

  3. sendal djepit meneh???
    *gak elit tenan bojoku ki… :P

  4. 4 yuyasoshi

    wogh ngakak denger cerita apa-adanya vs ada-apanya mas Brury ini,lama ndak ketemu, gmn kabar Mr.Brury Jr a.k.a Diandra?moga2 sehat selalu di Depok,jd kangen beudh deh ma blog oprekan ini…Brury-senpai adalah teman sekaligus senior saya dalam perlinuxan,pengenalan Debian di “kompie diajeng” membuat saya sampai sekarang pengen berucap WOW!thats awesome dude!!!!what is that?

  5. @yuyayoshi,
    Diandra itu perempuan, om yuya.. :)

    @yah, mbok sekali-kali mbahas ttg Diandra, ben dho kenal sm Diandra,,, ^^
    koleksi foto dedek dah banyak lhoo…

  6. 6 wahyukrisna

    wogh, perempuan y? Maap T.T


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.